Jangan Naik Angkot Ketika Hamil Besar

Ah, cerita ini membuat sayamerinding setiap kali mengingatnya. Bukan karena ada cerita mistis disana tapikarena saat itu Saya hampir saja jatuh dari angkot. 

Jika hamil besar baiknya jalan-jalan ke mal. Saat itu sekitar bulanMaret tahun 2009. Saya, Mama dan anak Saya Umar menumpang sebuah angkot menujupusat perbelanjaan di dekat rumah yaitu Arion Plaza. Kami menumpang angkot atauyang disebut juga mikrolet bernomor 02. Saya menyetop angkotitu. Angkot pun berhenti seketika, angkot masih kosong penumpang. Tapi justrukarena penumpang masih sepi itulah si supir angkot jadi seenaknya sajamenjalankan angkotnya. Bayangkan belum lagi kami duduk dengan nyaman, angkotsudah dijalankan dengan kecepatan tinggi. Tancap gas! Angkot melaju dengankencangnya. 
Saya sendiri sampai teriak, “Bang, pelan-pelan dong menyupirnya,Saya lagi hamil nih!”.
 
Eh si supir angkotmalahan bilang, “Kalo ga mau seperti ini ya jangan naik angkot, bu!”
Dalam hati saya kesalsekali. Si supir angkot ini ga bersyukur sekali sih dengan adanya penumpang.Toh, bukan hak dia juga kan sebagai supir untuk ugal-ugalan di jalan. Justrukewajiban supir angkot itu untuk menjalankan kendaraannya dengan baik apalagijika membawa penumpang yang sedang hamil besar seperti Saya. Tapi apa daya sisupir angkot masih anak muda, alay pula. Jadi agak sulit untuk memahami keadaanSaya. Saya memahami itu, tapi sebagai supir angkot kalau memang belum memahamitata cara menjalankan kendaraan dengan baik, lebih baik jangan jadi supirangkot.
Ya, sudah Saya pasrah.Saya pegangi Umar berdua dengan Mama, Saya kuatir sekali Umar terjatuh ketikaitu karena memang guncangan di dalam angkot luar biasa sekali. Umar saat itumasih berusia 20 bulan, belum bisa duduk dengan baik di angkot. Apalagi angkottak ada pegangannya. Sebagai ibu hamil tentu saja Saya harus menjagakeseimbangan dengan baik dengan berpegangan pada kursi angkot yang tak layaksebagai tempat pegangan. 
Alhamdullillah,akhirnya kami sampai di pusat perbelanjaan. Namun, apa mau dikata ketika Sayamemberhentikan angkot,”Bang stop kiri”. Si supir angkot mengerem mendadak, haltersebut membuat Saya kehilangan keseimbangan dan hampir saja jatuh keluarangkot jika Saya tak ditahan oleh ibu-ibu di depan Saya. Amarah Saya memuncakketika itu.
“Bang, pelan-pelandong, Saya lagi hamil nih!”, kata Saya dengan keras.
Kemudian Saya, Mama danUmar turun. Mama saya ternyata sudah membayar di dalam angkot dan kaget sekaliSaya ketika Saya hendak turun, supir angkot sudah bersegera hendak menjalankanangkotnya jika tidak Saya teriyaki untuk berhenti. Hampir saja Saya jatuh untukyang kedua kali, Alhamdullillah ketika itu Mama dan Umar sudah turun. Uh,tambah kesal saja Saya.
Terus terang Saya sedihsekali dengan keadaan yang seperti itu pada angkot di Indonesia. Seharusnya adasemacam surat ijin mengemudikan angkot beserta aturan-aturan yang harus ditaatibagi supir angkot. Kondisi seperti itu seringkali memang terjadi. Jika tidakkepada Saya maka terhadap orang lain. Itu baru satu supir angkot, bagaimanajika ada 100 supir angkot yang seperti itu. Ada berapa ratus orang yangmenderita sebagai penumpang. Apalagi jika sedang dalam keadaan hamil, maka bayidalam kandungan akan tersiksa juga, bukan?
Saya juga akhirnyamenyarankan bagi wanita-wanita hamil agar menghindari angkot dengan supir yangugal-ugalan. Mungkin sudah bisa dilihat dari kejauhan bukan apakah si supirangkot membawa kendaraan dengan baik atau tidak. 
Kata Mama Saya,“Sudahlah Put, jangan pakai angkot lagi besok-besok. Kalaupun mau pake angkotharus duduk di depan. Kalau tadi karena kursi sebelah supir sudah diisi ya apaboleh buat”.
“Iya Ma”, ujar Saya.
Kami pun melangkahmenuju pusat perbelanjaan dengan perasaan kesal yang sudah sedikit mereda. Walaupun ada sedikit kesal disana namun dengan kita jalan-jalan bareng begini rasanya kesal pun hilang sudah.

Tulisan ini diikutkan pada:
giveaway 10th years wedding anniversary 

(diadakan oleh mbak Misfah dalam rangka wedding anniversary yang ke sepuluh. Barokallah ya mbak, semoga langgeng seterusnya, amiinnn)
 

Iklan
19 comments
  1. Tu sopir angkot ugal-ugalan sekali yaaa ….Seraaaaam, trims sudah mengingatkan….

  2. Della said:

    Astaghfirullah, serem ya, Pu..Makasih sarannya, aku ingat terus deh 😀

  3. itulah kondisi angkot di negara kita. Supirnya tidak punya perasaan semua. Membacanya jadi ikut geram, mbak. Untung gak apa2 ya. Coba kalo sampai terjadi apa2 sama janin yg dikandumg. Apa si supir mau tanggung jawab?

  4. tidak semua angkot, Mbak. Tapi memang ada beberapa 'oknum' pengemudi angkot yang seolah memiliki banyak nyawa cadangan ( begitu kadang kami menyebutnya ), dan seolah lupa bahwa yang mereka angkut bukanlah batu, melainkan manusia yang juga bernyawa.Saya sudah beberapa tahun jarang naik angkot, dan kalau kebener ketemu yang model begini ( ugal-ugalan ), saya langsung minta turun meskipun belum sampai ditujuan. Lebih baik keluar ongkos, ganti angkot yang lebih aman dan nyaman.Oh ya, Mbak. PR kenangan SMP sudah saya kumpulkan, juga sudah saya sebarkan kepada lima sahabat lainnya. Semoga mereka berkenan meneruskannya. oh ya, hampir lupa. semoga sukses di kontes, Mbak. Insya Allah.

  5. hamil Pascal aku sering naik angkot,kalau hamil alvin malah gak pernah .Allhamdulillah semua baik2 aja

  6. iyaa menyebalkan kalo ada sopir angkot kayak gitu.. alasannya kejar setorann… emang kondisi angkutan umum di indonesia belum bagus mbak, ga cuma angkot.. bis, kereta, dan ojek pun juga begitu :(semoga Allah selalu melindungi kita. amien

  7. al kahfi said:

    tdk semua sih yg seperti itu,utk momen yg ini mungkin pak supir angkotnya lagi ada masalah yang terkadang kita tdk tau, tapi apaun itu kalau ketemu yg begini lebih baik turun deh , lebih baik hilang ongkos dari pd hilang nyawa,, salam sahabat mbak sxalian sy izin follow

  8. Miss 'U said:

    waaahh.. sopir ugal2an…udah berapa kali pengalaman naik angkot kayak gini… >,<untung lagi ga hamil *nikah aja blom 😛

  9. waduh mbak… jadi inget dulu waktu hamil naik angkot pun begitu… harus ekstra hati2 ya..

  10. Shine said:

    wah, kacau tuh mba, miris yo, hiikss…salam kenal yo mba 🙂

  11. Nia said:

    bener mbak…biasanya klo ketemu sopir yg kayak gini pertama aku tegor dulu…klo dia masih ngebut juga mending aku turun…..biasanya sopir angkot ngebut krna blm dapat setoran atau ada temannya yg jaraknya dekat…jd mrk ngebut utk rebutan penumpang…..emang serem mbak naik angkutan umum di jkt….klo ngga terbiasa biasa stress hehehe…..sukses utk kontesnya….

  12. [L]ain said:

    Ckck…mesti hati-hati tuh. Klo ada apa-apa sama kehamilannya kan gawat*tapi jangan sampe*

  13. Della said:

    Pu, emailnya yang puteriamirilis@gmail.com kok failure ya? Aku mau tanya, tadi ada orang-orang BPK datang ke MK, adakah dirimu di antara mereka?Just wondering 😉

  14. lho mbak, tinggal dimana? aku juga di sekitaran rawamangun. Dulu pas hamil kadang naik angkot sendirian buat kontrol ke RSUP. Ya gitu, saya nunggu sampe ada angkot yg kosong bangku sebelah sopirnya 🙂

  15. Nchie said:

    Rata-rata memang semua sopir angkot begitu ya Pu,mungkin karena mengejar setoran kali,..Aku pernah naik angkot,waktu Olive 2 tahunan,ngebut gitu,aku langsung teriak Kiri..ganti angkot aja,males..

  16. Semoga setiap supir angkot diberikan kesadaran bahwa deia juga memiliki seorang isteri, ibu, dan adik perempuan yang melewati masa-masa kehamilan.Sukses selaluSalamejawantah's Blog

  17. Postingan ini resmi terdaftar sebagai peserta giveaway moment to remember di blogku, terima kasih sudah ikutan ya, salam hangat dari saya Misfah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: