(Fiksi) Cinta – bagian 3

Pendaratan sebelumnya cinta #2

“Cinta cepetan bangun, gelitikin nih”, kata Luvi.

Ucapan Luvi bagaikan serangan bom molotov bagi Cinta, ia sangat tak suka digelitikin. Apalagi Luvi kalau mengglitikin kucingnya biasanya kucingnya itu sampai berguling-guling.

“Oh, tidak bisa”, kata Cinta bergegas bangun dan langsung turun ke bawah.

“Tapi aku ga bawa sepeda, boncengin ya Luvi jelek”, kata Cinta setengah teriak sesampainya di bawah.

“Makanya tadi udah kubilang bawa sepeda ini malahan pengen boncengan, berat tau”, ucap Luvi setelah sampai di bawah.

“Ih, Aku tuh kecil kamu tuh yang berlebihan. Yang mengajak Aku juga kamu. Ya udah ga ikut juga gapapa”, Cinta melengos pergi.

“Ih, Cinta. Loh kok malah pergi sih. Iya sini Aku boncengin. Tapi duduknya ke depan ya, jangan menyamping. Untung kamu pake celana hari ini. Dasar perempuan ribet. Enakan jadi laki-laki, ga ribet ama urusan baju”, kata Luvi sambil mendirikan sepedanya yang tergeletak begitu saja di rumput karena standarnya rusak.

“Iya, Aku hari ini pakai celana. Aku udah tahu kok mau diajak jalan-jalan ama kamu”, ucap Cinta asal.

“Ih, sok tau banget. Udah cepetan naik”, kata Luvi.

Dan begitu Cinta sudah siap membonceng, dimulailah petualangan mereka berdua. Luvi itu sukanya berpetualang. Tapi temannya cuma Cinta yang sedikit penakut. Ketika bersepeda Luvi juga sukanya kencang. Seperti saat itu Luvi bersepeda kencang sekali. Sampai-sampai Cinta keringat dingin dan ketakutan sekali. Untungnya mereka memakai helm yang memang selalu dibawa Luvi ketika bersepeda.

Huf, Cinta tak bisa berkata apa-apa. Mau protes juga, salah sendiri ga bawa sepeda sendiri. Diboncengin Luvi dengan kecepatan tinggi tentu saja sudah resiko. Yah itung-itung belajar lebih berani. Tapi akhirnya Cinta melupakan semua kejadian di sepeda karena pemandangan di sekitar indah sekali. Ia mencoba menikmati tatkala akhirnya Luvi memperlambat laju sepedanya.

“Bagus banget ya Luv, Aku belum pernah kesini sebelumnya”, kata Cinta.

“Iya, Kamu biasanya juga abis pulang sekolah paling di rumah bantuin Mama kamu atau belajar. Atau paling cuma sampai rumah pohon aja membaca buku”, jawab Luvi.

“Lihat sinar matahari menembus di balik pepohonan Luv, indah sekali ya”, teriak Cinta.

“Woi jangan teriak-teriak dong, pengang kuping nih. Ya iyalah Cinta, sinar matahari itu kan cahaya yang bisa menembus. Tidak seperti kamu yang berupa benda padat dan tak menembus”, jawab Luvi seadanya.

Cinta mencubit pinggang Luvi.

“Cubit-cubit, genit ih. Cinta genit ih. Tinggalin di hutan nih”, kata Luvi menyeringai kesakitan.

“Ya, jangan Luvi. Nanti Cinta ga bisa pulang sendirian”, jawab Cinta polos.

Sepeda Luvi pun mulai mengencang lagi lajunya. Sampailah mereka di tepi sungai yang membelah hutan.

“Wah sepertinya segar sekali. Aku mau turun”, Cinta berucap.

“Oke, sebentar ya. Kamu turun duluan tapi tetap di situ jangan pergi duluan ke sungainya”, kata Luvi.

Dan Cinta pun tetap diam di tempat itu hingga Luvi selesai memparkir sepedanya. Setelahnya mereka bersama ke tepian sungai itu.

“Airnya segar sekali, dingin Cin”, kata Luvi.

“Iya, Cinta kusyuk membasuh wajahnya yang oval”, kata Cinta.

” Sebentar ya Luvi, Aku mau memotret keadaan sekitar sini. Aku mau buat tulisan tentang perjalanan kali ini ah”, kata Cinta.

Cinta memang kemana-mana selalu membawa kamera pocket.

“Silahkan Cin, aku juga mau menggambar sebentar. Objeknya bagus banget.”, kata Luvi sambil mengambil buku gambar kecil yang sudah dipersiapkan sejak tadi.

Cinta memang hobi menulis, fotografi dan membaca. Sedangkan Luvi hobinya berpetualang dan melukis. Kali ini Luvi mengajak Cinta berpetualang agar ia tahu nikmatnya berpetualang dan pastinya petualangan itu bisa diambil sebagai bahan menulis bagi Cinta. Luvi pun suka sekali melukis objek petualangannya dengan menggambarnya dahulu.

Tak lama suasana hening karena masing-masing kusyuk dengan hobinya. Cinta menulis dan Luvi melukis. Hingga sejam kemudian dirasa karya mereka sudah cukup untuk objek hari itu. Mereka pun pulang.

***

Ombak masih berusaha mencapai bibir pantai kala itu. Angin bertiup perlahan. Mengenai wajah gadis belasan tahun itu. Ia terbangun. Dan menyadari telah memimpikan sesuatu yang dirindukannya beberapa hari ini. Ah, semua sungguh tak bisa pergi dari pikiranku.

Cinta, sesuatu yang indah dan berkesan selamanya. Jika tak seperti itu maka itu bukan Cinta (katanya di hatinya).

bersambung ke cinta bagian 4

Baca juga daftar isi

Iklan
1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: