Book Review : A Cup Of Tea For Single Mom

Judul Buku : A Cup Of Tea For Single Mom
Penulis  : Lygia Nostalina, Triani Retno, dll
Penerbit  : Stiletto Book
Cetak  : April 2011
Harga : Rp 40.000,00

Saat ini banyak sekali dijual di pasaran buku-buku yang menampilkan kisah nyata dari penulisnya, sepertinya membaca kisah-kisah nyata ini membuat pandangan mata lebih terbuka lebar akan suatu topik yang biasanya topik-topik keseharian kita saja. Seperti buku yang akan Saya review ini yang berjudul “A Cup Of  Tea For Single Mom. Ya, buku ini diibaratkan sebagai secangkir teh yang akan kita minum sedikit-sedikit sambil kita ikut membayangkan dan merasakan kisah-kisah yang ada di dalamnya.

Ada 17 kisah dari 17 penulis wanita teraduk dalam secangkir teh itu dengan kisah yang berbeda namun memiliki satu benang merah yang sama, yaitu seorang wanita yang menjadi Single Mom. Single Mom? Ya, adakah diantara kita para wanita yang ingin menjadi seorang Single Mom? Rasanya tak ada satu pun wanita di dunia ini yang benar-benar ingin memiliki status yang sering di cap “negatif” oleh masyarakat kita. Single Mom sendiri tak hanya Single Mom karena berpisah dengan Suami di dunia, namun juga disebut Single Mom jika ditinggal oleh Suami ke akhirat, berpisah karena takdir hidup di dunia yang sudah berakhir bagi Suami kita.

Para Single Mom menuliskan dengan baik kisah-kisah mereka di buku ini. Namun ada pula kisah yang merupakan kisah orang lain alias bukan kisah si penulis sendiri, penulis hanya menceritakan kisah seorang Single Mom di sekitarnya. Mereka menceritakan suka dan duka yang dialami oleh seorang Single Mom, bagaimana kejadiannya ketika status Single Mom benar-benar disandang, bagaimana dengan kehidupan sosial, finansial, psikologis, dan utamanya anak-anak para Single Mom.

Kisah diawali oleh seorang Single Mom yang akhirnya harus mencari penghasilan di luar. Ada kalimat yang menyentak di sana ” Ketika seorang Single Mom bekerja di luar rumah, sesungguhnya hatinya ada di dalam rumah, bersama anak-anaknya. Dan sesungguhnya pula, ia tak pernah pergi kemanapun (Lygia Nostalina). Ia menceritakan kisahnya ketika dulu awal menjadi Single Mom (saat ini sudah berstatus istri kembali :)). Ketika akhirnya harus berpisah dari Suaminya dulu ia harus bekerja dalam penyelenggaraan acara motivasi yang diadakan oleh kantornya hingga larut malam, saat pulang ia dijemput oleh temannya yang ternyata seorang pengecut kelas kakap karena akhirnya teman yang menjemput itu mengatakan kurang lebih, “bagaimana kalau malam ini kita mengobrol saja di hotel sampai pagi”. Sebuah pertanyaan yang meremehkan dan membuat si penulis ingin lari dan meminta pulang. Ia teringat sosok anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ia sudah memohon untuk pulang saja karena anak-anaknya sudah menunggunya. Dan ketika si teman tak juga menuruti ia ambil langkah besar. Sampai di lampu merah ia buka pintu dan kabur seraya menyetop angkot setelah sebelumnya meninju perut si teman lelaki.

Kisah kedua adalah kisah seorang TKW yang ditinggal mati oleh Suaminya tepat pada 3 bulan pertama kepergiannya dalam kondisi masih memiliki 2 anak balita. Bagaimana tidak ia harus membesarkan dua anak yang masih kecil-kecil seorang diri, ditambah dengan keadaan ia harus segera kembali ke perantuan di Hongkong. Bagaimana ia harus melewati semuanya dengan tegar, bagaimana ia harus tahan ketika anak sulungnya menelepon dari Indonesia dan mengatakan “aku rindu Ayah, atau Aku ingin diajari pelajaran ini dan itu”. Ketika anaknya yang masih kecil melafalkan doa-doa di telepon. Ketika anaknya justru yang mengatakan, “Ibu jangan menangis”, atau ketika anaknya mengatakan kala hujan mengguyur bumi, “Ibu kasihan Ayah, pasti Ayah kedinginan”. Si penulis menuliskan semuanya dengan satu perasaan Saya harus kuat, jika tidak anak-anak Saya berlindung pada siapa?.

Ya garis merah semua kisah dari kisah satu hingga kisah ke tujuh belas adalah sama kisah seorang single mom yang berjuang sendirian membesarkan anak-anak. Melewati peran ketika anaknya rindu Ayah mereka, melewati peran ketika kebutuhan finansial pun mendesak untuk dipenuhi, melewati peran ketika diri sendiri tak sanggup dengan semua beban itu. Diantara kisah itu juga terselip bagaimana anak-anak menjalani hidup mereka ketika ayah dan ibunya berpisah atau ketika Ayah telah tiada. Diantara 17 kisah itu tak ada kisah favorit bagi Saya karena mereka semua mengisahkan kisah yang memberikan pencerahan bagi Saya tentang perjalanan hidup seorang single mom. Sesedih atau sebiasa apapun kisah itu, namun kisah seorang Single Mom patut untuk kita apresiasi dengan baik.

Apabila Saya mau mengaitkan kisah-kisah para single mom diatas dengan pengalaman Saya pribadi, mungkin pengalaman Saya adalah menjadi anak dari seorang single mom dan single dad. Ya, orangtua saya berpisah ketika Saya berusia 13 tahun, sekitar kelas 1 SMP. Saya pernah menceritakan rasa yang ada di (bukan)oh mama oh papa. Menjadi anak dari seorang single mom dan single dad pada saat itu tentu saja tidak enak, tepat ketika Saya sedang membutuhkan pendampingan orangtua secara lengkap. Saya tetap tinggal dengan Mama. Sehingga Saya tahu bagaimana perjuangan Mama menjadi single mom dulu. Saat itu rasanya tak ada peluang apapun untuk mencari penghasilan yang mama sia-siakan, diantaranya membuka warung, menjadi perias pengantin, menerima pesanan kue-kue, sampai jual kambing ketika Idul Adha pun dilakoni. Mama saat itu berusaha keras mencari penghasilan untuk kami sekeluarga. Papa masih tetap memberikan juga tapi penghasilan Papa juga masih perlu ditambah untuk mencukupi keperluan kami sehari-hari. Yang pusing bagi mama ketika itu adalah pada saat Saya mau masuk SMU, adik no 2 mau masuk SMP, dan adik paling kecil mau masuk SD (jaraknya menakjubkan bukan?). Mama pusing pontang-panting mencari uang kesana kemari. Belum lagi dengan masalah-masalah di luar finansial, seperti Saya yang mulai ABG dan pastinya mulai ada masalah baik pergaulan maupun sekolah. Adik saya yang juga mulai ABG dan mulai berani-beraninya menghisap rokok ditambah sekolahnya suka tawuran (adik Saya sering diajakin), belum lagi adik bungsu yang baru masuk SD tentunya adaptasi pelajaran baru dengan situasi baru di SD yang lain dengan TK. Dan Mama harus mengurusi semua itu. Luar biasa.

Alhamdullillah Mama memang seorang yang kuat, tak gampang menangis apalagi mengeluh. Mama selalu mengatakan,”Apapun yang terjadi kamu harus kuat, agar adik-adik juga kuat”. Ya, Saya bisa kuat dan tegar juga karena didikan mama. Walaupun Saya akui, Saya tak mungkin bisa setegar dia jika harus menjalani kisahnya. Karena itu tak ada dalam kamus Saya untuk berpisah dari Suami, kecuali jika memang maut yang memisahkan.

Kembali lagi ke buku. Secara keseluruhan isi dan tema dari buku “A Cup Of  Tea For Single Mom ini baik. Saya menyukai karena di buku ini juga mengisahkan bagaimana akhirnya para single mom mampu bertahan dalam situasi yang mungkin tak pernah ia inginkan itu. Jadi tak hanya melulu kisah sedih saja yang ditampilkan namun motivasi untuk selalu berjuang dan berusaha mendapatkan yang terbaik bagi keluarga itu juga ditampilkan. Sehingga memotivasi siapapun itu dan menginspirasi. Namun ada satu hal, terutama pada kisah-kisah yang menceritakan kisah orang lain. Saya merasakan aura perbedaan dalam hal penceritaan mungkin karena bukan pengalaman sendiri. Seringkali juga mereka yang mengalami sendiri malu atau segan untuk mengisahkan kisahnya sehingga membutuhkan orang lain untuk menceritakannya.

Buku ini baik sekali dibaca oleh siapapun yang sudah dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Bagi perempuan yang berstatus single mom maka buku ini akan memberi semangat baru baginya menjalani perannya, karena ternyata single mom itu bukan dirinya sendiri. Bagi mereka yang bukan single mom maka buku ini akan memberi motivasi untuk selalu menjaga pernikahan kita dengan Suami, kita belajar bagaimana sesungguhnya anak-anak itu akan merasakan dampaknya dari cerita-cerita di buku ini. Bagi para single dad maka buku ini memotivasi untuk senantiasa tetap berlaku baik pada mantan pasangan kita, tetap memberikan perhatian penuh pada anak-anak. Dan bagi pria yang bukan single dad maka buku ini baik dibaca agar ia senantiasa menjaga hubungan dengan istrinya demi cinta dan anak-anak. Maka belilah buku ini, buku ini baik bagi anda.

Dan di akhir kisah secangkir teh pun telah anda nikmati dengan puasnya.

Salam Persahabatan Untukmu

“Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp “

Baca juga daftar isi

ketika cinta menyapa pernikahan kita

jika kau menjadi istriku nanti

bagaimana jika pasangan kita meninggal

Iklan
23 comments
  1. Saya telah membaca dengan cermat artikel sahabat.Saya catat sebagai pesertaTerima kasih atas partisipasi sahabatSalam hangat dari Surabaya

  2. ulasannya bagus,,. dan pemilihan potongan2 ceritanya juga bagus.. bahkan baca potongan aja bikin saya terharu

  3. Dari ulasannya kayaknya bagus nich bukunya. Smoga bs baca tanpa beli. Haha

  4. Menarik, jadi ingin bacanya 😉 Makasih ya Pu sudah direview, dan semoga sucses ikut kontesnya…

  5. Orin said:

    Oh..ini buknya ibu2 cantik itu ya Pu? selalu sulit untuk para single mom..Gudlak ngontesnya Pu 😉

  6. dhila13 said:

    mba PU, pengalaman berharga banget ya punya pengalaman sendiri ttg itu. salut sama mamah mba Pu yang pastinya tegar dan tidak putus semangat. makanya anak2nya pun tidak pernah putus semangat semua. gud lak mba 🙂

  7. Nia said:

    kayaknya bagus yach bukunya…bolehlah dipinjam hahaha…..Ibuku juga Single Mom, setelah aku berumah tangga….baru bener2 merasakan ternyata sulit yach jd orangtua…apalagi kalo cuma sendiri….smoga kita bisa mencontoh yang baik2 dr buku itu dan dr kejadian yg kita alami yachh…..sukses utk kontesnya…

  8. Kalau saya lihat, yang nulis buku ini orangnya banyak ya mbak?

  9. like thiissss..bagus mbak put..moga menang yahh

  10. Asop said:

    Melihat harganya, saya rasa saya harus mencarinya di Rumah Buku. DIskon 30% tampak cukup terjangkau.

  11. Ini Non fiksi ya Mbak Put? Ah jadi tertarik nih pengin baca..

  12. pa kabar mbak putri, semoga selalu sehat, maaf yah mbak baru bisa meninggalkan jejak hari ini disela sela kerjaan yg nggak pernah ada habis nya..maaf banget kemarin batik nggak bisa ikutan, untuk puding love storynya alhamdulilah diperpanjang, semoga bisa posting soalnya sekalian jadi pengingat unniversary pernikahan kami yang ketiga tahun tepat hari ini semoga aja nanti dirumah bisa posting, book reviewnya mantap, 🙂 semoga menang di kontesnya pak dhe..saya masih jalan ditempatneh …thanks a lot mbak pu..salam buat kak azkia dan kak umar:)

  13. saya ikut mendoakan mbak Pu,..semoga menggugah PakDhe agar terpilih untuk menang hehehekapan2 perlu beli nih,..eits, nunggu pinjaman dari Mbak Pu aja ah 🙂

  14. True story selalu bisa menyentuh hati dan menginspirasi ya, Mbak…semoga sukses review bukunya 🙂

  15. Nchie said:

    Ulasannya sangat menyentuh pu..ga tau kalo mbaca beneran,kayanya sedih ya dengan kisah2 single Mom nya..Hiks..Jadi melow kalo mbaca tentang perjuangan seorang mom..huhu..Ga mau aku ga mau jadi single Mom..Sukses ya Pu..

  16. k[A]z said:

    wah ini serba tentang ibu.ia bener mbak.zaman sekarang banyak buku tentang kisah nyata.

  17. walaupun hampir nggak ada ingin jd single Mom, buku ini pasti inspiratif sekali… semangat juang para single Mom patut juga kita tiru…semoga sukses, mbak Puteri

  18. Selamat, review ini telah terpilih sebagai pemenang di book review contest BlogCamp. Sekali lagi, selamat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: