Sofia dan Tukang Nasi Goreng

Langkah kakinya terus berjalan menyusuri waktu di malam yangturun hujan. Gerimis membuat wajahnya basah oleh air, apalagi ketika iamenengadah ke udara. Sofia,nama gadis itu. Jilbab merah muda mempermanis raut wajah yang basah oleh rinaihujan. Aku sendiri tak tahu mengapa ia tampak seperti orang yang kebingungan. Ada apakah??

Aku terus mengikuti langkahnya yang tak kalah oleh derashujan. Hendak kemanakah? Tak kutahu dengan pasti…Ya aku hanyalah seorang kakekpenjual nasi goring di pinggir jalan ini. Setiap malam aku selalu berjualandisini. Biasanya malam kemarin pelangganku selalu ramai, termasuk gadis itu,tapi entahlah malam ini sepertinya mereka mencari menu lain untuk makan malam.Padahal aku sudah memperkirakan jika mereka mau membeli nasi goring atau mirebus ku malam ini, besok aku akan pergi dengan emak ke pasar. Sudah lama emakingin membeli kain batik, kain batik lamanya sudah lusuh katanya. Emak, maafkanaku karena sepertinya rejeki belum berpihak pada kita malam ini. Mudah-mudahandi hari berikutnya.
Tapi Sofia…gadis itu melangkah di jalan itu, biasanya Sofia segera berjalankemari, hampir setiap malam. Malam kemarin dia tidak membeli nasi gorengbuatanku, harusnya malam ini dia membelinya. Mengapa malam ini pun sepertinyadia tak bergegas melangkah ke gerobakku ini.  
Namun ternyata Sofiaberbalik arah, dan tampaknya ia menuju ke gerobak ini. Cipratan air hujan dirok tak terlalu ia hiraukan. Ia berjalan kemari, semakin dekat dan…
”Nasi gorengnya satu pak…”, ujar Sofia.
“Wah nak Sofia,siap dibuatkan nak…”, balas saya.
Sambil meramunasi goreng untuk Sofia, saya pun menanyakan beberapa hal padanya.
”Ada apa nak koktadi tampak bingung di ujung jalan sana…”, tanya saya.
”Iya pak…sayabingung teman sekamar saya sudah dua hari ini tidak pulang. Kemarin terakhirkali pamit dengan saya katanya mau pergi dengan pacarnya. Entah kemana pak.Saya kuatir terjadi apa-apa padanya. Hp nya dihubungi tidak berbalas, mungkinsudah mati baterainya”,jawab Sofia dengan muka kuatir.
”Iya nak, sayajuga kuatir kalau melihat pergaulan anak remaja sekarang. Pacaran sampaiberdua-duaan begitu. Waktu Bapak ke Ragunan dengan Emak pun melihat para pemudapemudi berdua-duaan di pojokan. Bapak risih melihatnya nak”, jawab saya.
”Itulah pak,teman sekamar saya itu sudah berkali-kali saya kasih tahu agar menghindaripacaranya itu, karena pacarnya itu memang sudah terkenal play boy. Tapi sepertinya dia sudah cinta sekalidengan pacarnya itu. Sehingga nasihat saya pun tak dihiraukan. Hujan-hujan seperti ini, kemana merekapergi”, kata Sofia kuatir.
Nasi Gorengbuatan saya pun selesai dan saya suguhkan kepada nak Sofia yang sedang bingung.
”Ayo nak, dimakandulu nasi gorengnya. Kalau tidak makan nanti nak Sofia sakit. Apalagi hujanbegini udara dingin, harus jaga kesehatan”, kata saya.
”Iya pak”, kataSofia, sambil makan dengan lahapnya.
Sayamemperhatikan dari jauh nak Sofia. Di kampung cucu saya juga seumur dengan nakSofia 19 tahun. Tapi cucu saya sudah menikah, maklumlah di kampung menikah mudasudah biasa. Lain dengan di kota yang lebih memilih untuk melanjutkan kuliahselepas SMU. Kota kan lebih maju dan keuangannya juga lebih baik. Cuma ya itu,mereka kuliah tapi juga sekaligus pacaran. Pacarannya luar biasa, sudah sepertilayaknya suami istri saja. Ada juga remaja-remaja yang menjaga pergaulan merekaseperti nak Sofia, namun tidak banyak dibanding yang bergaul bebas. Sedih saya.Alhamdullillah di kampung cucu saya sudah memiliki 2 putra, mereka hidup daribertani.
Sofia tetap asyikdengan nasi gorengnya. Seperti habis puasa seharian penuh saja. Nikmat sekalimemakan nasi goreng itu. Cabai rawit ikut disendokkan ke mulutnya setelah nasigoreng sudah lebih dahulu masuk ke mulut. Tambah nikmat jika cabai rawit ikutdimakan. Pedesnya menjadikannya luar biasa. Oleh karena itu saya pun selalumenambahkan acar cabai rawit banyak-banyak pada nasi goreng untuk nak Sofia.
Wah nikmat sekalipak nasi gorengnya, ditengah-tengah berkecamuknya pikiran saya akan temansekamar saya itu. Saya lapar pak…sudah dari pagi saya puasa, puasa SeninKamis“, kata Sofia.
„Alhamdullillahnak…Bapak berharap dan turut mendoakan agar temanmu itu segera pulang malamini. Bapak kok juga ikutan kuatir“, ujar saya.
„Iya pak,amiiinnn…saya coba mendoakan dia juga. Mudah-mudahan malam ini kembali. Ini pak uangnya, kembaliannya ambil sajakebetulan saya baru mendapat rejeki”, kata Sofia sambil memberikan uang 50ribu.
”Waduh,terimakasih nak, tidak perlu repot-repot”, ujar Saya tidak enak.
”Tidak apa pak,ini bentuk rasa syukur saya. Dan saya membagi itu ke Bapak, semoga berkah yapak. Mari pak saya pulang dulu. Assalaamualaikum”, kata Sofia.
”Waalaikumussalaam,terimakasih nak. Semoga rejekinya berkah..amiiinnn”, kata Saya sambiltersenyum.
Alhamdullillah yaAllah jadi saya bersama Emak besok ke pasar membeli batik.
Baca juga daftar isi
7 comments
  1. Susindra said:

    Meski sedikit, sedekah Sofia bisa jadi sangat berarti bagi penerimanya.

  2. Kakaakin said:

    Subhanallah…Rizki yang tak terduga :DSaya saja belum pernah melakukan hal seperti itu…😦

  3. isnuansa said:

    Sofia itu artinya apa ya, Mbak? Mulia hatinya.#malahtanya

  4. Nia said:

    Alhamdulillah…kalo rejeki ngga kemana….

  5. Rezeki selalu datang dari arah tak terduga ya mbak… Ceritanya bagus bgt…Jadi pengen nasi goreng, hehe.. *ups!*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: