Karena Kau Begitu Nyata

Terinspirasi banget dari postingan Bu Enny yang sehari itu rasanya lama bu. Disana Bu Enny menceritakan pengalamannya sebagai ibu yang bekerja. Terus terang saat ini rasa dilema itu selalu ada, bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu, bagaimana jika anak saya ketika Saya sedang tak bersama mereka, apa yang mereka lakukan, apa perasaan mereka. Dan sebagainya. Pertanyaan yang selalu dan selalu menggelayuti hati dan pikiran. Namun ketika Saya mendapati sebuah kenyataan bahwa Saya pun memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan Saya, rasa syukur karena telah diterima bekerja di tempat yang mungkin saja dirindukan banyak orang, sebuah cita-cita Saya dahulu. Rasanya juga tak adil dan ikut merasakan jika orang tua Saya sudah memberikan kepada Saya kesempatan untuk kuliah namun hasil dan ilmu di bangku kuliah tidak bisa Saya manfaatkan dengan optimal sesuai cita-cita Saya. Ingin memberikan sedikit dan secercah saja cahaya bagi instansi tempat Saya bekerja.

Sudah berkali-kali My Soulmate memberikan pilihan jika Saya memang mau resign, boleh saja, tapi jangan menyesal dan ketika anak sudah semakin besar jangan tiba-tiba justru ingin bekerja. Bekerja itu dari sekarang, ketika masih muda sudah ditekuni. Dan Saya pun menyadari, desire Saya untuk bekerja masih lebih besar. Bukan berarti Saya tidak sayang anak-anak namun Saya yakin cara memberi kasih sayang dengan Saya masih bekerja juga dirasakan oleh anak asalkan kita bersungguh-sungguh melakukannya.

Saya pun mengkonsultasikan kegundahan itu ke psikolog yang kerapkali praktek di kantor seperti yang Saya posting di konseling dengan psikolog bahwa saya sedang mengalami kegundahan dan kegelisahan sebagai seorang ibu. Saat itu Saya mengkonsultasikan bagaimana supaya ketika anak tidak menangis ketika kita berangkat kerja, bagaimana sarannya dari sisi dunia psikologi. Dan seperti yang dikatakan psikolog di postingan tersebut bahwa anak balita itu masih berpikir nyata. Mereka belum mampu memikirkan hal-hal yang sifatnya abstrak. Contohnya ya keberadaan ibunya ketika sedang bekerja. Dengan seorang ibu pergi dari sisi si anak, anak tersebut akan kebingungan sendiri ibunya itu akan kemana. Sehingga dia akan menangis ketika ibunya berangkat bekerja (atau pergi kemanapun tanpa si anak). Begitupun ketika biasanya si ibu pulang jam 5 sore lalu tiba-tiba karena suatu hal si ibu harus pulang telat maka si anak akan gelisah bin rewel. Bolak balik melihat ke pintu masuk rumah dan akan menangis kecewa ketika tak mendapati ibunya yang datang. Seorang anak balita akan lebih tenang jika ia tahu tempat dimana ibunya bekerja dan mengetahui dengan pasti kapan ibunya akan pulang.

Untuk mengatasi permasalahan ini maka membawa anak sesekali ke kantor tak ada salahnya bagi seorang ibu, dibawa pula ke ruangan tempat ibu bekerja dan ibu mengatakan ke anak bahwa inilah tempat ibu bekerja setiap hari. Imajinasi anak yang masih nyata akan lebih mudah mendefinisikan bahwa ibunya kalau bekerja maka akan ke tempat tersebut. Jika repot membawa anak ke kantor maka bawalah pengasuh anak atau dititipkan ke tempat penitipan anak dekat kantor atau lebih baik jika kantor kita yang mengadakannya. Untuk persoalan pulang telat maka beda jalan keluarnya dari psikolog tadi Saya mendapat saran agar setiap kita pulang telat maka telponlah anak kita agar dia tahu bahwa kita pulang telat dan tidak meraba-raba kepulangan kita. Katakan misal ibu pulang jam 7 malam, maka sampaikan juga ke pengasuh agar memberitahukan bahwa jam 7 malam itu di tempat yang mana di jam dinding rumah.

Saya pun mencoba membawa Azkiya ke kantor dengan menitipkan Azkiya ke Tempat Penitipan Anak seperti yang Saya posting di azkiya di tempat penitipan anak. Seperti yang Saya ceritakan di postingan tersebut beberapa kali Azkiya selalu menangis jika ditinggal oleh Saya di TPA. Saya berusaha mencari penyebabnya. Saya coba agak lama ketika mengantarkan Azkiya, ikutan main dulu dengan teman-teman dan ibu pengasuh di TPA, Saya coba peluk Azkiya ketika akan pergi, tapi hasilnya sama Azkiya tetap menangis ketika Saya tinggal, meskipun menangisnya hanya sebentar tapi Saya pernah mendengar bahwa meninggalkan anak pergi ketika anak sedang menangis tidak bagus untuk perkembangan psikologis anak. Saya coba diskusi dengan ibu pengasuh di TPA, dan ternyata masalahnya karena Azkiya belum pernah Saya bawa ke ruangan Saya. Memang setelah sampai di kantor Saya selalu mengantarkan Azkiya dahulu ke TPA baru setelah itu Saya ke ruangan. Saya terlupa akan konsep nyata dari seorang anak balita.

Pagi ini Saya mencoba untuk membawa dahulu Azkiya ke ruangan tempat Saya bekerja. Saya perkenalkan Azkiya dengan teman-teman seruangan Saya termasuk dengan atasan. Setelah itu barulah Saya antarkan Azkiya ke TPA. Dan amazing, Azkiya tidak menangis ketika Saya tinggal pergi. Tidak seperti biasanya. Saya cukup menjelaskan Ummi akan ke ruangan ummi dulu ya, Azkiya disini sama Ibu pengasuh dan teman-teman. Dan Azkiya mengatakan iya sambil mengangguk. Alhamdullillah, senang tak terkira Saya di hari ini.

Salam Pu kawan..^^

Baca juga daftar isi

15 comments
  1. Nia said:

    wahh ternyata begitu yach mbak….aku juga udah pernah ajak ina ke kantor….tp waktu abis dibawa ke kantor, besoknya ina minta ikut lagi…begitu terus sampe seminggu lebih…jd klo mau berangkat kerja terpaksa ngumpet2…..Mbak putri kan PNS…sayang atuh klo resign….anak2 nanti jg terbiasa, semakin umurnya bertambah nnti juga mrk mengerti dan ngga nangis lagi.

  2. iya mbak, pengen ikutan lagi, cm ya dicoba kasih pengertian aja kl kita ga bisa tiap hr ajak ke kantor.

  3. maminx said:

    Pasti sedih ya anak nangis pas ibu nya pergi ngantor. satu sisi dilema juga ya mbak. tapi tetep semangat ya.bagus banget nih konsultasi ama psikolog nya. mudah2an nanti kalau udah berkeluarga dan punya anak. anaknya di ajak jalan-jalan juga ke kantor gitu supaya paham ya, amin..:)

  4. r10 said:

    untung Tempat Penitipan Anaknya dekat kalau jauh? Bagaimana?

  5. dhenok said:

    jadi ingat ponakan saya yang selalu menangis ketika bundanya pergi.. mungkin cara ini bisa kakak sya coba mbak Pu..

  6. allo mbak salam kenal..waduh karena saya bekerja di rumah, jadi tidak pernah merasakan seperti yang mbak rasakan, cuman kalo lagi deadline pekerjaan harus selesai terpaksa saya nyuekin anak saya, hehehe, tapi untungnya dia udah besar mbak, udah 7 tahun. saya dan papanya sama sama kerja di rumah, jadi lengkap selalu…titip salam sayang untuk ananda, saya ijin follow ya mbaaak

  7. Berakit-rakit kehulu aja dechBiar ntar kalo pny anak ga pergi dr rumah tp tetap bs bnt suami cari nafkah heheTp tipsnya bs disimpan dl sapa tau dibutuhkan hehe

  8. Hani sering denger surhatan teman-teman yang sudah memu=iliki anak, terkadang mereka gak focus kalau anaknya udah sakit…

  9. kalau umar sudah pernah diajak belum mbak?Pascal tiap hari lihat kantorku mbak, didapur hehehe balada ibu RT

  10. nh18 said:

    Puteri …Menurut pengalaman pribadi saya …hal ini memang sering terjadi terutama saat anak-anak belum sekolah …Namun Alhamdulillah setelah sekolah … mereka mendapatkan dunia bermain mereka … dunia bersosialisasi …So … menurut saya … bersosialisasi saya rasa akan dapat mengurangi nangisnya anak ketika ditinggal bekerja …Yang jelas … kita manusia … juga anak-anak … dikaruniai kemampuan untuk belajar … beradaptasi … dan bersosialisasi …Salam saya Puteri

  11. uni said:

    wah gitu ya mba caranya, makasi ya infonya, insy nanti diterapkan klo dah punya sang 'malaikat kecil'🙂

  12. entik said:

    saya juga kadang membawa ikhsan ke kantor. Sekarang kalau dipamitin ibu mau ngantor, Alhamdulillah ikhsan langsung mengangguk dan melepas kepergian saya dengan senyuman, bukan tangisan lagi.

  13. Setuju sama komennya mbak Nia dan mengomentari komen Om NH..Vania udah sekolah tapi tetep nangis tuh mbak klo aku pergi, jd ngumpet2 perginya… Kalaupun ketauan minta ikut deh (krn pernah kuajak klinik jg)… Soale jadwal aku siang sih, pas dia dirumah pulang sekolah (pagi aku antar dia ke sekolah).. Mgkn pikirnya, "aku udah pulang sekolah, mau main sm Bunda, tp knapa Bunda malah pergi ya?"… Apa itu ya penyebabnya…?Lah aku malah curcol..😛

  14. edratna said:

    Pada dasarnya anak bisa dilatih…saat saya berangkat ke kantor (saya ikut jemputan satu kompleks), anak saya dadaag. Saya ingat masa kecil saya, saat belum sekolah juga dadaag, kalau nangis akan dibiarkan oleh ibu. Akhirnya anak akan belajar, kalau menangis tak akan mendapat perhatian, namun akan mendapat pelukan atau ciuman jika bersikap baik.Bersabarlah jika anak agak rewel, tapi tetap tekankan bahwa ibu bekerja juga untuk kepentingan anak saat besar, yang butuh biaya banyak untuk uang sekolahnya.

  15. Fier said:

    mantap-mantapbisa menjalani dua profesi dengan seimbang (amin)sama seperti Ibu saya, jadi pegawai sekaligus menjadi ibu..kalo temen saya lain ceritanya, dia malah dilarang kerja..salamkenal!;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: