First Love ~ Forgotten Distance

Kelanjutan dari first love close

You are always gonna be my love
Itsuka dareka to mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made


Dari kamar adik Gua sayup-sayup Gua dengar First Love Utada Hikaru.

Pedih Gua tahan rasa ini, persahabatan indah dengannya berakhir tiba-tiba. Persahabatan dengan jarak yang jauh, saling berbagi, mengutarakan kata-kata bersayap yang indah, hingga sebuah ledekan-ledekan kecil yang membuat Kami bahagia. Dia yang membuatku melupakan hati yang sakit itu. Dia yang memberiku kekuatan. Dia yang kutahu sebagai sosok yang tegar. Jujur Gua belum siap kehilangan lagi, Alice telah pergi dan kini kau pun pergi. Gua galau dengan perasaan sendiri.

Ciaaa…

Gua berteriak keras saat itu saat kudengar kabar kepergianmu untuk selama-lamanya. Mengapa di saat Gua sedang merindukan untuk bertemu denganmu. Bandung sudah menunggu perjumpaan kita Cia. Galauku memuncak saat itu. Entah.

Sudah Gua persiapkan semuanya. Gua sudah memesan Bunga Amaryllis kesukaan Lo. Ya, Lo pernah bilang kalau Lo suka Amaryllis yang warnanya keunguan itu. Gua sudah memesannya di Toko Bunga Amaryllis untuk pertemuan kita nanti. Dan tiba-tiba kemarin Gua mendengar Lo telah meninggal dunia karena kecelakaan, di saat Lo hendak membeli oleh-oleh untuk Gua. Sangat-sangat membuat Gua merasa bersalah. Buat apa Lo beli oleh-oleh untuk Gua jika itu hanya berakibat hilangnya nyawamu. Tak habis pikir hati ini. DAMN!!!

Ya, Tuhan
Berilah dia tempat yang indah di sisi Mu
Cia yang indah dengan segala keindahan yang ia miliki.


Gua masih ingat saat-saat itu saat kita chatting gila

Cia: hai keven jeleeekkkk


Gua: heh…cia lebih jelekkk

Cia: ih, jangan bagi-bagi kejelekan

Gua: eh Lo tuh yang jeleek bangettt

Cia: ye gua mah emang jelek…Lo?

Gua: ……jelek bangeeettt Loo.

Ah, Gua ingin keluar saja. Dimakamkan dimana saja Gua tak tahu. Entah di Aussie atau di Indonesia. Dimana lagi Gua harus mengenang Lo Ciaaa???? Gua merambati jalan dengan berjalan kaki di sore ini, daun-daun akasia gugur mengiringi hati yang sedang terluka. Jalan menuju toko buku ini teramat jauh Gua rasa saat ini. Buku selalu jadi alat Gua untuk menenangkan emosi. Buku-buku humor atau fiksi-fiksi kocak yang sedang banyak di pasaran.

Nyanyian kesunyian yang selalu menghampiri
Lagi dan lagi…
Mengapa sahabat selalu pergi…
Di saat kutemukan Sahabat yang baik hati

Ciaa…

entah mawar, entah melati…
takkan kutawar, kau selalu di hati…

Huh, dalam hati Gua merengut. Mengapa dalam kesedihan ini Gua masih bisa merangkai kata-kata konyol itu. Tibalah Gua di toko buku, ingin Gua lihat isinya segera. Kubuka toko dan Gubraaakkk, buku-buku berjatuhan. Gadis pembawa buku itu mengambil bukunya satu persatu. Gua bantu mengambil buku-bukunya itu. Dalam hati Gua mengomel mengapa buku-buku itu harus dibawa tanpa kantong plastik Sekilas ketika pandangan Kami pun bertemu. Gua tatap wajah sosok yang tak asing itu. Alice???


“Kamu Alice”, tanya Gua, mendadak bicara dengan Alice mengapa aku menjadi ber-Kamu.

“Keven”, jawabnya sambil tersenyum, manis sekali.

“Ah, kamu”, Gua hampir saja teriak karena girang, walau dalam hati masih ada sisa-sisa kenangan akan Cia.

“Aku sedang di Bandung beberapa hari ini Keven, Aku menghadiri pemakaman sahabatku Cia”, kata Alice.

“Ciaa? kau kenal?, tanya Gua.

“Ya, dia sahabatku di Aussie”, kata Alice.

 “Jangan buru-buru menyalahkan Cia, Aku yang menyuruh dia melakukan itu semua, Aku meminta dia yang menjawab chatingan itu. Nama akunku disana menjadi Alicia,  sengaja sejak Aku pindah ke Aussie memakai nama itu. Nama sebenarnya Cia adalah Ciani”, kata Alice tanpa beban.

“Hah, kau tahu semua itu, maksudmu apa”???,suaraku emosi walau tak terlalu keras. 


Sambil mengeluarkan air mata dan berjalan menuju kafetaria di luar toko itu Alice bercerita.

“Awal Aku pindah ke Aussie Aku berontak dengan Mama Papa. Mengapa harus pindah ke Aussie, itu jauh sekali dan terutama jauh darimu Keven. Seorang sahabat yang telah mengisi hari-hariku dengan senyum yang mengembang”, cerita Alice.


“Hmm”, deheman Gua.


“Karena itu Aku berusaha melupakanmu. Semua tentangmu Keven. Aku tak peduli dengan dirimu sejak terakhir saat-saat keberangkatanku. Aku menghindarimu. Bahkan boneka hello kitty darimu seolah tak kuterima dengan baik. Padahal dalam hati aku sangat menyayangi boneka itu, masih ada di kamarku hingga hari ini. Itu semua kulakukan agar Aku tak terlalu sakit ketika Aku harus meninggalkan Indonesia menuju Aussie”, kata Alice.


Gua masih mendengarkan. Kami duduk bersama di bangku kafetaria. Setelah memesan makanan Alice melanjutkan ceritanya.

“Di Aussie Aku sekolah di sekolah untuk Orang Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di sana. Aku pun bertemu dengan teman-teman baru. Saat itu Aku masih berusaha melupakanmu. Hingga Aku bertemu sahabat bernama Ciani. Aku menceritakan tentangmu ke Ciani. Ciani bilang jangan terlalu emosional seperti itu. Dia pasti akan sedih jika melihatmu bersedih seperti itu. Suatu saat kalian akan bertemu kembali. Percaya padaku.”, kata Alice.


“Cia juga mengatakan hal yang sama kepada Gua lis”, kata Gua.


“Ya, Aku yang menyuruhnya. Kalian jadi dekat bukan. Foto yang dikirim memang foto Cia. Hingga kamipun berencana ke Bandung seperti yang dia bilang ingin ke Bandung padamu Kev. Rencananya di saat itu Cia ingin memberi kejutan padamu dengan mempertemukanmu dengan Aku”, kata Alice sambil terisak.


Gua masih tetap mendengarkan sambil makan kentang goreng dan milk shake.

Sore itu Cia sedang belanja di market. Entah dia pergi sendiri saja. Dan ketika pulang hendak menyebrangi jalan, sebuah truk besar melintas dengan cepat. Dan Cia terplanting, hingga meninggal seketika”, kata Alice sambil menangis.

“Gua turut berduka cita atas meninggalnya Cia. Gua pun sudah merasa dekat dengan Cia dan kehilangan Cia. Karena selama beberapa bulan ini kami senantiasa berkomunikasi bersama”, ujarku polos.

“Namun di saat akhir kami chat, dia bilang dia ingin bersama Gua. Saat itu Gua belum menjawabnya”, kata Gua.


“Sebenarnya itu Aku, itu perasaanku, itu bukan perasaan Cia Keven. Dia sudah punya orang yang ia cintai di Aussie”, kata Alice setengah berbisik.

Di jarak yang terlupa, forgotten distance. Semua bersemi, semoga selalu di dalam hati.

Dan tiba-tiba Gua terkesiap dengan pengakuan jujur seorang Alice.

Senyum mengembang di bibir Kami berdua. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “First Love ~ Create Your Own Ending” yg diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura.

Baca juga daftar isi

5 comments
  1. wuaaaah baguuus.. ternyata si alice sama cia sahabatan. walau kalo gw jadi Keven (yg lebih ganteng :p) gw pasti kesel karna dikerjain dalam waktu yang cukup lama…

  2. EnnyLaw said:

    wahh ending'a beda banget ya..ihiiy asikk nih..

  3. Kalo beneran kayak gini, gua pasti kesel, hahaha (untungnya kaga)Thanks ya udah ikutan

  4. Orin said:

    akhirnyaaaa….happy ending atuh yaa he he… Gudlak ngontesnya Pu 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: