Edisi Ramadhan 9: Dilema Seorang Kreatif (bagian 3-tamat)

Cerita Sebelumnya pada DSK 1 dan DSK 2

Akhirnya senyum itu mengembang juga dari mulut Pak Heru.
“Terus terang saya senang dengan kejujuran kamu Didi. Sejujurnya dari awal Saya juga agak sedikit ragu dengan segala yang dibicarakan di rapat kemarin. Sebagai perusahaan yang lebih banyak bergerak di bidang kreatif penerbitan ini justru membutuhkan jaringan internet, tapi melihat dari keluhan Pak Indra yang lebih mengetahui keadaan di lapangan Saya pun tak bisa berkata apa-apa. Apalagi karyawan semua pada rapat kemarin tidak ada yang protes. Saya memahami mungkin karena tidak enak dan sungkan. Baiklah Saya akan bicarakan ini ke Pak Indra. Saya tidak akan mengatakan semua yang Didi bicarakan disini. Saya hanya mengatakan pendapat Saya saja”, kata Pak Heru.

“Benarkah pak, Saya sebenarnya sudah khawatir Bapak marah dengan sikap Saya. Saya bersyukur mempunyai pemimpin seperti Bapak”, kata Didi jujur.

“Ya, sebagai pemimpin dan pengatur di perusahaan ini Saya berkewajiban menciptakan suasana kerja yang kondusif untuk perbaikan perusahaan ini kedepan. SDM adalah salah satu bagian yang sangat penting di perusahaan ini. Bayangkan apa jadinya jika SDM di perusahaan ini justru terbatasi aksesnya untuk hal-hal yang memang dibutuhkan dalam bekerja, tentu itu tidak adil. Hanya saja Saya ingin menekankan agar Karyawan bijak dalam menggunakan akses internet untuk kepentingan pribadi, secukupnya dan jangan mengganggu pekerjaan”, kata Pak Heru.

“Terimakasih Pak, insya Allah Saya pribadi akan menjaga amanat Bapak ini, Saya mohon pamit”, kata Didi.

“Baik, silahkan”, kata Pak Heru.

Didi balik badan menuju pintu, membukanya sedikit lalu keluar dari ruangan Pak Heru dengan perasaan lega luar biasa. Ia pun kembali ke meja kerjanya, deadline siang ini dari Pak Indra harus segera ia selesaikan. Di meja kembali Didi tekun bekerja.

Sementara di ruangan Pak Heru sedang terjadi pembicaraan serius antara Pak Heru dan Pak Indra. Mereka seru membicarakan tentang penggunaan internet di kantor.

“Begini indra, Saya kok melihat bagian desain itu sebenarnya membutuhkan internet untuk bekerja. Sumber-sumber di internet yang bisa dipakai sebagai referensi dalam bekerja”, Ungkap Pak Heru.

“Tapi masalahnya Pak, internet itu sering dipakai untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Justru membuat pekerjaan mereka lambat selesainya”, kata Pak Indra.

“Hmm,,sulit juga ini di satu sisi kreativitas tertahan oleh akses, di sisi lain target pekerjaan itu sendiri tak tercapai. Bagaimana kalau jaringan internet tetap ada tetapi target kita tetapkan harian. Tidak seperti yang lalu kita pasang target mingguan. Dengan target harian maka setiap karyawan akan punya koridor tersendiri dalam bekerja. Kreativitas berkembang dengan adanya akses internet namun juga pekerjaan tak terbengkalai. Kalau target mingguan mereka akan cenderung menunda-nunda pekerjaan hingga akhir minggu. Itu yang menyebabkan target seringkali tak tercapai”, kata Pak Heru.

“Iya Pak…namun bagaimana mengatasi kecendrungan karyawan yang suka memanfaatkan sarana internet untuk kepentingan pribadi”, tanya Pak Indra.

“Tak masalah itu yang penting kerjaannya beres”, kata Pak Heru.

“Baik Pak, Saya permisi dulu. Mulai nanti siang internet sudah akan diaktifkan kembali seluruh jaringannya”, kata Pak Indra.

Dalam hati Pak Indra berpikir bahwa usahanya memotivasi karyawan ditantang oleh Pak Heru, bagaimana membuat karyawan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Justru internet sebagai sarana pendukung tak harus dimatikan.

****
Setelah jam makan siang berakhir, Didi yang baru saja kembali dari warteg di sebelah kantor kembali bekerja. Dan ia terkaget dengan jaringan internet yang sudah kembali tersambung. Dalam dirinya tersimpul tekad, Ya Saya harus teguh dalam menjalankan tugas ini. Internet akan Saya gunakan dengan bijak dan jika akan digunakan untuk pribadi harus sadar akan pekerjaan yang menunggu diselesaikan. Pengalaman tidak ada internet beberapa saat yang justru mengahambat pekerjaannya membuatnya tersadar bahwa internet itu penting. Jangan sampai ia terputus lagi.

(TAMAT)

2 comments
  1. Lidya said:

    hari gini ga ada internet…:)Allhamdulillah aku dirumah tidak dibatasi oleh boss mbak, yang penting semua berjalan sesuai target

  2. sekarang ini internet sudah menjadi barang keseharian terutama untuk menunjang pekerjaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: