Cerpen Bersambung: Dilema Seorang Kreatif (bagian 2)

Ceritasebelumnya:
Tokoh Aku merasakesal dengan peraturan baru di kantornya. Jaringan internet diputus. Rapatkantor telah memutuskan hal itu. Tokoh Aku ingin membicarakan ini kepadaatasannya, akan tetapi ia ragu. Sebagai seorang desainer ia membutuhkan jenak-jenakdi tengah tugas hariannya.bagian 1

Hmm…bau apaini?? Wah aroma capucino yang dibawa Tiwi si OG sungguh menggoda…
”Tiwi aku maucapucino juga satu ya…jangan pakai gula”, aku pun memesan capucino.
Setidaknya bisamengurangi stress ku, lelah…mau chat pun rasanya tidak bersemangat. Terkadangkawan chat ku banyak sekali kesibukannya sehingga tidak optimal mengobrolnya.Itulah dunia maya, dunia yang penuh ketidakpastian. Entah mengapa dunia itucukup memberi obat untuk hati yang suntuk di tengah-tengah aku bekerja sebagaiseorang desainer.
Desain tata letakbuku ini harus segera kuselesaikan. Kujalankan tetikus itu, mencoba untukmembangkitkan semangat kerjaku. Aku mencoba untuk tekun saja. Aku pernahmembaca bahwa kebiasaan itu bisa dibentuk dalam 2 minggu. Jadi tak menjadialasan sebenarnya bagiku untuk tidak semangat bekerja hanya karena jaringaninternet yang diputus.
Aku hanya harusmenyelesaikan deadline tata letak buku yang ini, lalu yang itu, lalu buku yangsatu lagi. Dengan masing-masing buku jumlah halamannya 300 halaman.
”Ini mas Didicapucinonya”, kata Tiwi sambil memberikan secangkir capucino panas.
”Makasih yawi…”, kata ku.
Slurrrp…
kuseruput setegukcapucino, uuhh panas. Lupaaku kalo capucino Tiwi selalu dengan air panas mendidih.
Aku punmelanjutkan kerjaku. Ya beginilah kerjaanku sehari-hari. Sangat menyenangkansebenarnya, karena aku memang hobi mendesain. Aku hanya belajar otodidak saja,tidak kursus secara khusus. Alhamdullillah hasil belajar otodidak itu membawahasil yang lumayan. Bahkan aku bisa berprofesi sebagai desainer saat ini.
Pak Indra datang,berjalan ke arahku. Ada apaya? Kerjaanku ada yang salah kah?
“Ini Di, bagianini harusnya di kanankan sedikit. Hurufnya di bold dan diaturlah Di supayaterlihat lebih menarik. Siang ini saya tunggu ya?”, kata Pak Indra.
“Baik Pak”,kataku.
Huf…bertambahlagi kerjaanku. Buku yang harus diedit itu berjumlah 150 halaman, dan harusselesai siang ini. Sedangkan buku lainnya diminta minggu ini harus selesai.Inilah masalahku sebenarnya, pekerjaan di cantor over loaded, sehingga membuatku kecapean sendiri. Pekerjaanmendesain yang sebenarnya Sangat kusenangi menjadi seperti kerja rodi saja.
Sepertinya akubenar-benar harus membicarakan hal ini dengan Pak Heru. Mudah-mudahan dia maumemahami masalahku. Aku pun berdiri. Inilah saatnya berbicara pada Pak Heru.Aku tak bisa lagi bekerja dengan cara seperti ini.
Deg..di depanpintu ruangan Pak Heru. Sudahlah jalan terus jangan mundur, ucapku dalam hatisaja. Kuketuk pintu ruangan itu, setelah dipersilahkan masuk kubuka pintunya.
”Permisi pak”,ucapku
”Oya, silahkanmasuk Di. Ada apa? Ayoduduk…”, kata Pak Heru.
Aku pun duduk dibangku itu. Setelah menenangkan diri sebentar, aku pun mulai berbicara.
“Begini pak, sayahanya ingin menceritakan sedikit masalah saya”, kata saya ragu.
“Ya, silahkansaja Di”, kata Pak Heru
”Akhir-akhir inisaya merasakan beban kerja yang terlalu menumpuk, ada 4 buku yang harus selesaidan jatuh dead line nya pada akhir minggu ini. Yang satu buku harus selesaisiang ini, karena hanya revisi. Saya mungkin hanya mengeluh ya pak, tapi inilahyang saya rasakan. Saya bekerja pada divisi kreatif tentu karena memangkompetensi saya di bagian ini ya pak, khususnya desain tata letak buku dansampul. Tapi entah mengapa, ketika pekerjaan itu terlampau di desak untuksegera ide-ide kreatif tak bermunculan. Ditambah jaringan internet yangdiputus, justru membuat kreatifitas saya serasa berhenti. Saya membutuhkanistirahat pada jenak-jenak saya bekerja. Saya bisa mencari ide-ide dariinternet, ditambah hobi saya yang lain yaitu menulis di blog bisa disalurkan.Hal ini penting karena berkaitan erat dengan bagian-bagian dari jiwa saya pak.Pekerjaan kreatif tidak seperti pekerjaan lainnya, pekerjaan kreatif membutuhkanhal-hal itu. Saya sebenarnya agak sungkan menceritakan ini kepada Bapak tapisaya merasa harus menceritakannya segera ke Bapak, agar Bapak dapat memahamikebutuhan saya. Saya tidak menuntut namun ini memang semacam kebutuhan dalambekerja pak”, kata saya.
Pak Heru hanyadiam mendengarkan ucapanku. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ada apa ini,apakah beliau marah dengan kelancangan ku??
Bagaimanakelanjutan kisah Didi? Apakah Pak Heru menerima keluhan Didi? Bagaimanatanggapan Pak Indra setelah mengetahui Didi membicarakan hal ini ke Pak Heru?Nantikan cerita selanjutnya dalam Dilema Seorang Kreatif (bag. 3).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: