Sepenggal Kisah dari Rekaman Kick Andy Episode “Ancaman Sex Bebas di Kalangan Remaja”

Tulisan Almarhumah Suherlina Yusuf: 
siapa dia???
pernah kuposting di sini

Didiklah anak-anakmu untuk masa yang bukan masamu…

Begitulah nasihat yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib R.A. tidak kurang dari 13 abad yang lalu. Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa kelak, anak-anak kita akan menghadapi zaman yang sangat berbeda dengan zaman kita. Karena itu orang tua wajib menyiapkan anak-anaknya agar mereka menjadi pribadi yang kuat dan tangguh menjalani kehidupan mereka, dengan berbagai tantangan yang ada.

Saat ini, seperti yang sudah sering kita saksikan, dengar atau baca dari berbagai media, pergaulan remaja sudah sangat mengkhawatirkan. Pergaulan bebas dan berita-berita seks bebas diantara mereka sangat mengiris hati. Mulai dari pasangan muda mudi yang melakukan seks bebas atas dasar suka sama suka, hingga kasus pemerkosaan (maaf) yang tidak hanya terjadi dikalangan orang dewasa, tapi juga dikalangan remaja dan anak-anak. Seperti kasus remaja SMA memperkosa teman SMP-nya atau anak SMP mencabuli tetangganya yang masih SD dan balita.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa anak-anak kita berani melakukan perbuatan dosaitu?

Inilah tema yang diangkat oleh program Kick Andy dalam episode “Ancaman Sex Bebas di Kalangan Remaja” yang akan ditayangkan pada Jum’at, 3 Februari pkl 21.30 dan Minggu, 5 Februari pkl. 14.30 di Metro TV.

Kebetulan, aku mengikuti acara rekaman episode tersebut. Karena itulah, aku ingin berbagi pengalamanku kepada teman-teman…

Aku mendapat undangan tapping acara Kick Andy tersebut, dari Yayasan Kita & Buah Hati, tempat kerjaku dulu. Dari informasi yang kudapatkan, Bunda Elly Risman, Psi sebagai direktur YKBH, akan menjadi salah satu nara sumbernya. Aku senang sekali mendapatkan undangan itu. Karena sudah lama aku tak bertemu dan mendengarkan nasihat beliau seputar dunia parenting. Dan sudah lama, aku punya niat menjadi penonton langsung di dua acara Metro TV : Mario Teguh & Kick Andy. Karena menurutku, acara MTGW dan kisah-kisah yang ada di Kick Andy, sering memberikan inspirasi.

Pada hari H-nya, Rabu 19 Januari 20011, aku ditemani ibuku datang bersama para bunda-bunda trainer parenting dari Rumah Parenting YKBH-Bekasi. Sampai di studio Metro TV, di antara banyak kerumunan orang, aku melayangkan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu. Mencari sosok-sosok yang tentunya aku kenal. Akhirnya aku mendapati mereka. Ya, mereka adalah pejuang-pejuang pengasuhan yang tergabung dalam YKBH, klien-klien YKBH dan juga sahabat-sahabat yang satu perjuangan dengan YKBH. Beberapa diantaranya kulihat ada yang berasal dari ASA Indonesia (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia), Menpora, Menkokesra dan Kowani. Dan diantara mereka ada satu sosok orang tua yang kukenal. Ya Allah, ternyata Ibunya Bunda Elly. Kucium tangannya dengan penuh hormat & kagum. Subhanallah… di usianya yang sudah senja, beliau tetap semangat dalam mendukung perjuangan kami.

Acara rekaman dimulai sekitar pukul 19. Acara itu, terdiri dari 3 bagian/sessi. Sessi pertama dan kedua, masing-masing menampilkan nara sumber perempuan dan laki-laki yang menjalani “profesi” sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Mereka menuturkan kisahnya mulai dari pertama kali mereka menjalani “profesi” tersebut, mengapa mereka mau melakukannya, siapa saja yang menggunakan jasa mereka, apa yang mereka rasakan, sampai pengakuan bahwa mereka sebenarnya ingin keluar dari dunia gelap tersebut. Sedangkan sessi ketiga menampilkan seorang model yang masa kecilnya pernah mengalami kekerasan seksual, lalu orang tuanya bercerai, dan akhirnya ia sempat terjerumus ke dalam dunia gelap : narkoba dan pergaulan bebas.Namun, akhirnya kini ia telah bertobat.

Teman-teman yang sering menonton program Kick Andy, tentu tahu bagaimana Bung Andy membawakan acaranya dengan bahasa yang ringan, santai, dan terkadang di sela-sela pertanyaannya, ada humor yang membuat para penonton tertawa. Begitu pula dalam membawakan acara di sessi ini, meskipun menurutku topik dan bahasannya lumayan berat, tapi tetap saja Bung Andy memandu acara itu dengan gaya khasnya : santai dan humoris.

Padahal aku tahu, hati Bunda dan rekan-rekan seperjuangan lainnya pasti sangat tidak nyaman setiap kali mendengarkan pengakuan dari para nara sumber. Seandainya teman-teman juga ikut dalam syuting ini, mungkin teman-teman juga akan melakukan sama dengan kami :  banyak menghela nafas, menggeleng-geleng kepala, mengelus dada saat mendengar realita yang sungguh memilukan hati.

Kebetulan aku duduk di barisan ke-tiga di belakang kursi Bunda, sehngga aku dapat melihat dengan jelas respon beliau. Kulihat beberapa kali Bunda Elly menghembuskan nafas panjang, ketika mendengar hal-hal yang mencengangkan dari para remaja itu. Dan beberapa kali pula kulihat wajahnya yang gelisah. Aku tahu, bagaiman perasaan beliau. Jika aku berada disampingnya, mungkin ia akan berkata kepadaku : Ibu sesak nafas, nak..

Benar saja dugaanku…, belum lama syuting berjalan, pada saat break, seorang orang rekan Bunda meninggalkan studio karena ketidaknyamanan dengan suasana dialog yang terjadi. Setelah itu menyusul pula protes dari rekan Bunda yang lainnya. Dialog singkat yang terjadi antara beliau dengan Bung Andy berujung dengan sikap Bung Andy yang meminta beliau untuk meninggalkan studio, meskipun beliau sempat berkata : akan mengikuti syuting ini dulu, dan melihat-lihat kondisinya. Namun, tetap saja Bung Andy meminta beliau untuk keluar, dengan alasan telah mengganggu suasana rekaman. Akhirnya rekan Bunda Elly tersebut pun meninggalkan ruangan setelah bersalaman dengan Bunda.

Aku yakin kedua Bunda itu bukannya tidak setuju dengan topik yang akan dibahas. Aku juga kenal dengan salah satu Bunda tersebut. Toh, beliau berdua juga memperjuangkan dan concern pada masalah anak&remaja. Menurutku beliau berdua sangat tidak nyaman dengan gaya dan suasana dialog yang terjadi. Dimana topik ini adalah masalah yang serius, tapi mengapa di dalamnya diwarnai canda dan tawa. Ternyata, rekan-rekan Bunda tersebut juga tidak mendapatkan info yang utuh/benar mengenai acara itu.  Kedua bunda tersebut mengira, yang akan menjadi nara sumber di panggung adalah Bunda Elly. Namun ternyata, yang beliau dengarkan adalah penuturan remaja-remaja yang menjadi pelaku pergaulan/seks bebas, yang tak layak dipertontonkan di depan umum. Apalagi, penonton yang hadir di di studio juga banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa.

Sebenarnya, aku juga tidak mendapatkan info yang lengkap. Di awal, kukira Bunda Elly yang akan berada di panggung. Namun kenyataannya, Bunda duduk di bagian depan kursi penonton, yang akan dimintai pendapatnya di tengah-tengah acara. Meski begitu.. aku fikir antara Bunda dan Pihak Kick Andy sudah ada kesepakatan sebelumnya. Dan aku yakin, Bunda berkenan hadir menjadi nara sumber ahli yang hanya duduk di kursi penonton, karena beliau punya visi & misi yang ingin beliau sampaikan.

Ah, aku tak ingin membahas terlalu panjang mengenai insiden tersebut. Masing-masing pihak memiliki argumen terhadap prilaku yang mereka lakukan, baik kedua Bunda tersebut maupun Bung Andy. Dan kedua pihak juga telah membuat catatan/penjelasan sendiri melalui media mereka.

Dari dialog antara Bung Andy dan Bunda Elly saat membahas kasus remaja ini, aku mengambil beberapa poin penting.

*Kita sedang PINGSAN*
Menanggapi pergaulan bebas di kalangan remaja, Bunda Elly berpendapat bahwa ada peran orang tua yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu. Kita sebagai orang tua berada dalam kultur “PINGSAN”. Pingsan ? Ya…tak sadar, bahwa ancaman yang sama juga sedang mengintai anak-anak kita juga. Gelombag arus informasi dari berbagai media, tak dapat dibendung oleh anak-anak. Termasuk yang berkaitan dengan pornografi.

Dari data yang dimiliki Yayasan Kita dan Buah Hati, anak-anak terpapar pornografi dari berbagai media di sekitar mereka : komik, games, hp, internet, film TV, VCD/DVD, majalah, dan koran dengan prosentase yang berbeda-beda dan naik turun peringkatnya dalam beberapa kurun waktu. Yang mencengangkan, media-media itu adalah yang dekat dunia anak-anak. Komik misalnya, betapa anak-anak sangat dekat dengan media ini. Dan jangan sangka, bahwa semua komik anak-anak aman. Banyak komik yang digandrungi anak-anak, ternyata disusupi pornografi. Begitu pula dengan games baik games PS, ataupun games online.

Beraneka media, bermacam-macam pula cara anak-anak mendapatkan media tersebut. Ada yang dibelikan orang tua, ada yang pinjam teman, tapi yang parah, bila si anak mendapatkan dari orang tuanya. Seperti yang dituturkan salah satu nara sumber, ia mengaku pertama kali melihat video porno milik ayahnya. Ia mengambil secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ayahnya. Dan ia menontonnya berulang-ulang. Masya Allah…

Disitulah salah satu letak “kepingsanan” kita. Kita lalai dalam menjaga anak-anak kita dari media-media yang seharusnya tidak menjadi konsumsi mereka. Kita juga sering kali “LATAH”/ikut-ikutan. Tetangga sebelah membelikan HP/PS/internet untuk anaknya..lalu kita ikut pula membeli barang itu untuk anak kita, tanpa ada tujuannya. Orang tua sering kali hanya membelikan fasiltas, namun tidak memberikan pengarahan yang tepat dan pengawasan. Anak dibiarkan berselancar bersama media itu, tanpa kita menyadari bahaya besar sedang mengancam mereka.

Maka tidaklah mengherankan, jika saat ini remaja-remaja SMP & SMU sudah berani melakukan seks bebas. Karena sejak kecil fikiran mereka telah disusupi materi-materi pornografi.

 Ayah Bunda… yuk tingkatkan kewaspadaan terhadap media yang dikonsumsi buah hati kita.

*Berayah ada-berayah tiada. Beribu ada-beribu tiada*
Dalam perkembangannya, anak-anak membutuhkan perhatian yang penuh dari kedua orang tuanya. Namun pada realitanya, karena kesibukan orang tua, terkadang orang tua lupa dengan kuantitas dan kualitas waktu mereka bersama anak-anak.

Banyak diantara anak-anak kita yang berayah ada-berayah tiada, beribu ada-beribu tiada. Apa artinya ? Orang tua hanya hadir secara fisik, tapi tidak secara spiritual dan emosi, demikian Bunda Elly menjelaskan. Itulah mengapa disebut antara ada dan tiada. Ada hanya secara fisik. Tapi, hubungan emosi antara orang tua dan anak tidak terjalin baik. Begitu pula dengan bimbingan spiritual dari orang tua ke anak yang kosong.

Maka yang terjadi pada anak-anak yang seperti itu, mereka akan mencari kasih sayang dan perhatian dari lingkungan luar. Entah dari teman yang akhirnya dijadikan pacar, narkoba, pergaulan bebas, dan akhirnya terjerumus pada seks di luar nikah.

Seperti yang dituturkan oleh nara sumber ketiga, ia mengisahkan betapa sedihnya, ketika ayah ibunya bercerai. Sampai-sampai ia menciptakan lagu singkat (dan akhirnya ia nyanyikan di acara tsb) tentang kerinduannya pada sang ayah. Di salah satu syairnya menyatakan, (kurang lebih seperti ini) : “Jika saja aku mendapatkan kasih sayang yang penuh darimu, aku tak akan mencarinya dari yang lain. Karena itu sudah cukup bagiku.”  Sesuai bukan dengan pernyataan Bunda Elly?

Oya, Bunda juga bilang bahwa kita termasuk “The Fatherless Country”, sama seperti beberapa negara di luar sana yang sudah kehilangan Role Model keayahan. Anak-anak tak lagi memiliki figur ayah yang dapat dicontoh. Bukan karena ayah-ayah kita yang tidak baik, tapi lebih kepada : berayah ada-berayah tiada, sehingga antara anak dan ayah ada jurang pemisah yang jauh. Anak tak dapat mengenal sosok ayahnya dengan baik dan tak mendapat teladan dari sang ayah.

Untuk para Ayah, kembalilah ke rumah…

*Anak membutuhkan validasi dari orang tuanya.*
Apa bentuk validasi itu ? Ada 3 P : Penerimaan, Penghargaan dan Pujian

Penerimaan
Dari penuturan Bunda Elly, aku mengambil kesimpulan bahwa kita sebagai orang tua harus menerima anak secara utuh, apa adanya… dengan segala kelebihan dan kekuranggannya. Kalau kelebihan, sudah pasti kita menerimanya, bahkan sering membangga-banggakannya. Tapi…  kalau kekurangan atau hal-hal yang ia tidak miliki? Kadang-kadang kita sulit menerimanya.  Inilah yang kadang anak merasa tidak diterima oleh orang tua atau lingkungan keluarganya.

Penghargaan & Pujian
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak kita butuh dihargai. Dihargai pendapatnya, dihargai keputusannya, dihargai prestasinya dan juga mereka butuh pujian. Terkadang, kita sering lupa akan hal yang satu ini.

Hmmm… aku jadi teringat pada contoh bunda Elly di sebuah seminar. Ada seorang anak remaja putri yang jarang membantu pekerjaan ibunya . Suatu hari, entah apa yang sedang terjadi pada anak tersebut, ia menyapu salah satu ruangan di rumahnya. Ketika Ibunya melihat hal ini, spontan sang ibu berkata :  “Wah, tumben banget anak ibu ? Ada angin apa nih, sampai kamu rajin banget. Begitu dong seharusnya anak perempuan, yang rajin bantu-bantu ibunya”. Deg, hati si anak sangat sedih. Alih-alih pujian yang ia terima, malah sindiran dan nasihat yang pertama kali mendarat di telinganya.

Di contoh lain, ada seorang ibu yang mengeluh, ketika mendapatkan PR anaknya salah 4. Padahal dari 20 soal yang ia kerjakan, 16nya benar! Namun, sang ibu malah mempermasalahkan 4 nomer yang salah. Alih-alih menghargai usaha anaknya, ibu tersebut malah menyalahkan anaknya, mengapa ia tidak bisa mengerjakan keempat soal tersebut.

Begitulah Bunda memberikan contoh, yang menyiratkan batapa pentingnya penghargaan dan pujian bagi anak.

Penerimaan, penghargaan dan pujian akan membantu anak tumbuh dan berkembang dengan konsep diri yang positif.

*Bagaimana jika anak sudah terjerumus ?*
“Jangan panik”, begitu pesan Bunda, jika orang tua mendapatkan anaknya terjerumus dalam pornografi atau pergaulan bebas. Jika kita panik, dan menyalahkannya, itu hanya membuat situasi menjadi lebih buruk. Hal yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah merangkulnya. Karena sesungguhnya mereka adalah korban. Korban dari arus pornografi, dan bisa jadi korban dari keabaian/kelalaian kita sebagai orang tuanya.

Bimbing anak untuk dekat kembali kepada Allah. Karena ini merupakan langkah utama agar anak bisa keluar dari dunia gelapnya itu. Lalu dukungan positif dari orang tua dan bantuan dari psikolog/terapis akan dapat membatu anak kembali kepada kehidupan yang normal.

Begitulah hikmah yang dapat kubagi dengan teman-teman. Semoga ada manfaat yang bisa kita petik, terutama  bagi diri & keluarga kita. Anak adalah amanah Allah. Mari kita jaga mereka, agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka,      anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisaa : 9)

Untuk teman-teman yang akan menonton tayangan ini, ada satu pesan dari Bunda Elly yang cukup bijak, yang intinya : Janganlah hal ini hanya dijadikan sebuah berita, yang kita terkaget-kaget saat mendengarnya, namun setelah itu kita melupakannya dan tak ada yang kita perbuat.

Selamat menyaksikan…

***

Yaa Rabbanaa, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang sholih… dan berikan kekuatan dan bimbingan kepada kami agar dapat menghantarkan mereka ke zamannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: